JAKARTA - Bagi pelanggan listrik prabayar, pembelian token listrik telah menjadi rutinitas yang dilakukan secara berkala.
Aktivitas ini biasanya dilakukan setiap bulan atau saat saldo energi hampir habis di meteran. Meski sering dilakukan, masih banyak pelanggan yang bertanya tentang kesesuaian antara nominal pembayaran dan energi yang diterima.
Kebingungan tersebut muncul karena token listrik tidak bekerja seperti pulsa seluler. Nominal rupiah yang dibayarkan tidak sepenuhnya berubah menjadi energi listrik. Ada sejumlah komponen biaya yang memengaruhi jumlah energi yang akhirnya masuk ke meteran.
Untuk memahami hal tersebut, pelanggan perlu mengetahui konsep dasar token listrik prabayar. Token listrik adalah bentuk pembelian energi, bukan sekadar pengisian saldo uang. Dengan pemahaman ini, pelanggan dapat lebih bijak dalam merencanakan konsumsi listrik sehari-hari.
Perbedaan Token Listrik Dan Pulsa Seluler
Token listrik sering disamakan dengan pulsa seluler, padahal keduanya memiliki konsep yang berbeda. Pulsa seluler merupakan saldo rupiah yang digunakan untuk layanan komunikasi. Sementara itu, token listrik adalah alokasi energi listrik dalam satuan kilowatt hour atau kWh.
Pada sistem prabayar, pelanggan membeli alokasi energi listrik dalam jumlah tertentu. Alokasi ini digunakan oleh seluruh peralatan listrik di rumah dan akan berkurang seiring pemakaian. Karena itu, total energi tersedia dalam satuan kilowatt hour (kWh), jelas EVP Komunikasi Korporat dan TJSL PT PLN (Persero) Gregorius Adi Trianto.
Perbedaan konsep ini membuat cara menghitung pemakaian menjadi tidak sama. Pulsa seluler habis berdasarkan waktu atau penggunaan layanan. Token listrik berkurang sesuai daya dan durasi penggunaan peralatan listrik.
Nominal Token Dan Komponen Potongan Biaya
PLN menyediakan berbagai pilihan nominal token listrik yang dapat dibeli pelanggan. Nominal tersebut mulai dari Rp20 ribu hingga Rp1 juta sesuai kebutuhan. Namun, nominal yang dibayarkan tidak sepenuhnya dikonversi menjadi energi listrik.
Terdapat potongan yang dikenakan pada setiap pembelian token listrik. Potongan tersebut meliputi Pajak Penerangan Jalan atau PPJ yang ditetapkan pemerintah daerah. Besaran PPJ umumnya sekitar 3 persen dari harga token.
Selain PPJ, terdapat pula biaya administrasi. Nilai biaya administrasi berbeda-beda tergantung kanal pembelian yang digunakan. Aplikasi digital dan minimarket memiliki besaran biaya layanan masing-masing.
Ilustrasi Perhitungan Token Listrik Prabayar
Sebagai ilustrasi, pelanggan rumah tangga golongan R-1/TR dengan daya 1.300 VA dapat dijadikan contoh. Jika pelanggan membeli token listrik sebesar Rp100 ribu, maka akan dikenakan PPJ 3 persen dan biaya administrasi. Nilai bersih yang diterima berkisar antara Rp90 ribu hingga Rp94 ribu.
Dengan tarif dasar listrik Rp1.444,70 per kWh, nilai bersih tersebut setara dengan sekitar 63 hingga 65 kWh. Jumlah inilah yang kemudian masuk ke meteran listrik pelanggan. Energi tersebut akan terus berkurang seiring pemakaian perangkat listrik di rumah.
Perkiraan nilai kWh ini bersifat ilustratif. Nilai sebenarnya dapat sedikit berbeda tergantung golongan daya pelanggan. Biaya administrasi tambahan juga dapat memengaruhi jumlah akhir energi yang diterima.
Cara Membeli Token Listrik Prabayar
Token listrik prabayar dapat dibeli melalui berbagai metode yang mudah diakses. Salah satu cara yang tersedia adalah melalui aplikasi DANA. Pelanggan cukup menginstal aplikasi, memilih menu listrik prabayar, dan memasukkan nomor meteran atau ID pelanggan.
Setelah memilih nominal token dan menyelesaikan pembayaran, kode token 20 digit akan ditampilkan. Kode tersebut kemudian dimasukkan ke meteran listrik di rumah. Proses ini memungkinkan pengisian dilakukan kapan saja melalui ponsel.
Selain aplikasi digital, pembelian juga dapat dilakukan di minimarket terdekat. Pelanggan cukup menyampaikan keinginan membeli token listrik kepada kasir. Setelah pembayaran selesai, struk berisi kode token 20 digit akan diterima untuk dimasukkan ke meteran.