JAKARTA – Angkatan Laut Indonesia kembali menegaskan komitmennya memperkuat kekuatan laut nasional sepanjang tahun 2026, dengan fokus pada penambahan armada kapal perang yang lebih modern. Kepala Staf TNI Angkatan Laut (KSAL) Laksamana TNI Muhammad Ali menyebutkan bahwa prioritas besar di 2026 adalah mempercepat pengadaan kapal permukaan dan kapal selam untuk menghadapi dinamika keamanan kawasan dan memenuhi target kekuatan minimum.
Prioritas Utama 2026: Modernisasi Armada Kapal Perang
KSAL Muhammad Ali mengatakan modernisasi armada menjadi salah satu poin penting dalam rencana operasi TNI AL pada tahun 2026. Perencanaan tersebut mencakup pengadaan fregat dan kapal selam baru yang akan memperluas kapabilitas tempur angkatan laut Indonesia. Peningkatan jumlah kapal perang merupakan respons atas tantangan keamanan maritim di lingkungan regional sekaligus untuk memastikan Indonesia memiliki postur pertahanan laut yang kuat dan efektif.
Ali menjelaskan bahwa langkah ini bukan sekadar penambahan jumlah kapal, tetapi juga bertujuan meningkatkan kemampuan operasional dan interoperabilitas antar alat utama sistem persenjataan (alutsista). Hal ini menunjukkan strategi TNI AL yang menyeimbangkan antara kebutuhan teknologi tinggi dengan kemampuan logistik dan kesiapan awak kapal.
Penambahan Kapal Fregat: Dari Italia hingga Produksi Dalam Negeri
Salah satu elemen penting dalam prioritas kekuatan TNI AL adalah penambahan kapal fregat. Fregat merupakan kapal perang utama yang memiliki kemampuan multi-fungsi, termasuk pertahanan udara, serangan permukaan, dan anti kapal selam. Indonesia telah memesan sejumlah frigat baru dari berbagai sumber, termasuk hasil kerja sama dengan industri luar negeri dan produksi dalam negeri melalui PT PAL Indonesia.
Di antara fregat yang tengah dibangun adalah KRI Balaputradewa-322, kapal perang yang dibangun oleh PT PAL Indonesia berdasarkan desain Arrowhead 140 — desain modern yang juga diproduksi di beberapa negara maju. Kapal ini diproyeksikan menjadi tulang punggung armada fregat Indonesia di masa depan.
Selain itu, TNI AL membuka opsi tambahan pengadaan fregat dari sejumlah negara lain untuk mempercepat realisasi target kekuatan. Langkah ini menunjukkan fleksibilitas strategi alutsista Indonesia dalam menyeimbangkan kebutuhan pembangunan domestik dan pemenuhan cepat melalui kontrak luar negeri.
Kapal Selam: Memperkuat Kapabilitas Bawah Laut
Selain kapal permukaan seperti fregat, TNI AL juga menempatkan prioritas tinggi pada kapal selam. KSAL Ali menegaskan bahwa idealnya kekuatan kapal selam di Indonesia akan terus ditambah untuk mendukung operasi laut dalam dan menjaga kedaulatan wilayah laut. Rencana ini selaras dengan target pembangunan kekuatan pokok minimum yang mencakup jumlah kapal selam yang lebih besar dari kondisi saat ini.
Meski kapal selam adalah aset berteknologi tinggi dan membutuhkan waktu panjang dalam pembangunan, TNI AL berkomitmen mengakuisisi unit kapal selam baru secara bertahap agar jumlahnya mendekati kebutuhan strategis. Ini termasuk kerja sama pembangunan dengan industri luar negeri yang dapat mentransfer teknologi dan meningkatkan kemampuan manufaktur nasional.
Dalam beberapa kesempatan sebelumnya, KSAL telah menjelaskan bahwa penambahan kapal selam akan berdampak signifikan terhadap postur pertahanan bawah laut Indonesia — memperluas jangkauan operasi dan meningkatkan efek deterrent terhadap ancaman di perairan nasional.
Rencana Strategis dan Pendukung Kebijakan Pemerintah
Prioritas pengadaan kapal perang TNI AL tahun 2026 juga bersinergi dengan kebijakan pemerintah pusat. Rencana operasi komprehensif TNI AL disusun tidak hanya berdasarkan kebutuhan militer, tetapi juga untuk mendukung kebijakan strategis nasional dalam menjaga stabilitas regional dan keamanan maritim.
Rencana ini mencakup koordinasi antar lembaga, pengembangan industri pertahanan dalam negeri, dan optimalisasi anggaran pertahanan untuk menghasilkan armada yang kuat dan berdaya guna. Keseluruhan strategi menempatkan penambahan armada kapal perang sebagai bagian dari kebijakan jangka menengah yang terintegrasi dengan target pembangunan kekuatan laut hingga dekade berikutnya.
Tantangan dan Peluang di Masa Depan
Meski telah menetapkan prioritas, TNI AL menghadapi tantangan dalam mewujudkan target penambahan armada kapal perang ini. Hal ini terkait dengan kesiapan anggaran, kompleksitas teknologi kapal modern, dan kebutuhan pelatihan khusus bagi personel untuk mengoperasikan kapal baru secara efektif. Namun demikian, strategi yang matang dan kerja sama dengan industri pertahanan domestik serta mitra internasional diharapkan mampu meminimalkan hambatan tersebut.
Peningkatan kemampuan angkatan laut pada 2026 diharapkan akan menciptakan efek domino bagi perkembangan industri pertahanan nasional. Percepatan pembangunan fregat dan kapal selam membuka peluang kerja sama teknologi tinggi, peningkatan keterampilan tenaga kerja, dan penguatan ekosistem industri pertahanan Indonesia dalam jangka panjang.