MINYAK

Kenaikan Harga Minyak Beri Sinyal Positif Stabilitas Energi Global Ke Depan

Kenaikan Harga Minyak Beri Sinyal Positif Stabilitas Energi Global Ke Depan
Kenaikan Harga Minyak Beri Sinyal Positif Stabilitas Energi Global Ke Depan

JAKARTA - Harga minyak dunia kembali bergerak naik dan menjadi sorotan pasar internasional. 

Kenaikan ini terjadi ketika faktor geopolitik dan gangguan pasokan saling bertemu dalam waktu yang hampir bersamaan. Situasi tersebut membuat pelaku pasar bersikap lebih waspada terhadap perkembangan global.

Pada perdagangan Rabu, 28 Januari 2026, harga minyak mencatatkan penguatan signifikan. Sentimen pasar dipengaruhi oleh pernyataan keras Presiden Amerika Serikat Donald Trump terhadap Iran. Ancaman tersebut memicu kekhawatiran akan stabilitas kawasan Timur Tengah yang selama ini menjadi pusat produksi energi dunia.

Kondisi ini membuat harga minyak mentah berjangka mengalami lonjakan. Investor menilai ketegangan politik berpotensi mengganggu rantai pasok energi global. Akibatnya, permintaan terhadap kontrak minyak meningkat dalam waktu singkat.

Dampak Pernyataan Politik terhadap Pergerakan Harga

Donald Trump memperingatkan Iran bahwa waktu hampir habis untuk mencapai kesepakatan nuklir. Ia menyebutkan bahwa “armada besar” sedang bergerak menuju kawasan tersebut. Pernyataan ini langsung direspons pasar sebagai sinyal meningkatnya risiko geopolitik.

Harga minyak Brent tercatat naik 83 sen atau 1,23 persen menjadi USD 68,40 per barel. Sementara itu, harga minyak mentah Amerika Serikat menguat 82 sen atau 1,31 persen dan ditutup pada USD 63,21 per barel. Kenaikan ini menunjukkan sensitivitas pasar terhadap isu keamanan global.

Trump menyampaikan ancaman tersebut melalui platform media sosialnya. Ia menegaskan bahwa armada yang dikerahkan bergerak cepat dengan kekuatan besar. Pesan tersebut memperkuat kekhawatiran akan potensi eskalasi konflik di kawasan penghasil minyak.

Kehadiran Militer AS dan Respons Pasar Energi

Komando Pusat Amerika Serikat mengonfirmasi kedatangan Gugus Tempur Kapal Induk Abraham Lincoln di Timur Tengah. Kehadiran armada ini disebut bertujuan meningkatkan keamanan dan stabilitas regional. Namun, pasar memaknainya sebagai sinyal meningkatnya tensi politik.

Trump juga membandingkan pengerahan armada ini dengan langkah sebelumnya terhadap Venezuela. Ia menyebut armada tersebut siap menjalankan misi dengan kecepatan dan kekuatan jika diperlukan. Pernyataan ini menambah tekanan psikologis terhadap pasar energi.

Meski demikian, Trump sejauh ini masih menahan diri dari intervensi militer langsung. Ia tetap mendorong Iran untuk segera membuat kesepakatan. Pasar pun berada dalam posisi menunggu, sambil mencermati setiap pernyataan lanjutan dari Gedung Putih.

Gangguan Cuaca Perparah Tekanan Pasokan

Selain faktor geopolitik, cuaca ekstrem turut memengaruhi pergerakan harga minyak. Sebelumnya, harga minyak naik sekitar tiga persen akibat badai musim dingin yang melanda Amerika Serikat. Badai tersebut melumpuhkan produksi dan distribusi minyak mentah.

Produksi minyak Amerika Serikat dilaporkan kehilangan hingga dua juta barel per hari. Angka ini setara dengan sekitar 15 persen dari total produksi nasional. Gangguan ini menambah ketatnya pasokan di pasar global.

Ekspor minyak mentah dan gas alam cair dari Pantai Teluk Amerika Serikat bahkan sempat turun ke nol. Pelabuhan-pelabuhan utama ditutup sementara akibat cuaca ekstrem. Kondisi ini memperkuat sentimen kenaikan harga minyak di pasar berjangka.

Sentimen Tambahan dari Infrastruktur dan Produksi Global

Ekspor minyak mulai kembali pulih setelah pelabuhan dibuka kembali. Arus pengiriman dilaporkan kembali di atas norma musiman. Namun, pasar tetap berhati-hati karena potensi gangguan lanjutan masih ada.

Di kawasan lain, ladang minyak terbesar Kazakhstan, Tengiz, dilaporkan belum pulih sepenuhnya. Produksi diperkirakan baru mencapai kurang dari setengah kapasitas normal pada awal Februari. Pemulihan yang lambat ini menjaga pasar tetap dalam kondisi ketat.

Analis menilai pemulihan produksi yang tertunda dapat memperpanjang tekanan harga. Selain itu, nilai tukar dolar Amerika Serikat yang melemah turut memberikan dukungan tambahan. Kombinasi faktor-faktor ini membuat harga minyak tetap berada di jalur penguatan.

Prospek Harga Minyak dalam Waktu Dekat

Pelaku pasar kini memantau perkembangan geopolitik dengan lebih intens. Setiap pernyataan politik dinilai berpotensi memicu volatilitas harga. Situasi ini membuat pergerakan harga minyak cenderung fluktuatif dalam jangka pendek.

Analis memperkirakan risiko kenaikan masih terbuka jika ketegangan berlanjut. Gangguan pasokan akibat cuaca ekstrem juga belum sepenuhnya mereda. Kedua faktor tersebut menjadi penopang utama harga minyak saat ini.

Namun, pasar juga mencermati potensi normalisasi produksi dan distribusi. Jika kondisi cuaca membaik dan ketegangan mereda, tekanan harga bisa berkurang. Hingga saat itu, harga minyak diperkirakan tetap bergerak dalam tren menguat dengan volatilitas tinggi.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index